Berkat Budidaya Ulat Magot BSF Seorang Anggota Babinsa Kodim 0403/OKU Jadi Sukses

oleh -1984 Dilihat
Listen to this article

Kodim OKU – Adalah Pelda Sugimin anggota Koramil 403-04/Belitang, Kodim 0403/OKU. Pelda Sugimin berhasil menjadi Sukses, karena berhasil mengembangkan budidaya ulat magot BSF.

Pelda Sugimin yang kesehariannya bertugas menjadi anggota Babinsa Desa Suberasri Kecamatan Buay Madang Raya, Kabupaten OKU Timur mengungkapkan, awalnya budidaya ulat magot BSF tersebut, merupakan perintah dari pimpinan terkait ketahanan pangan TNI-AD, dalam mendukung program Pemerintah tentang percepatan pemulihan ekonomi, dampak dari pandemi Covid-19. Ada 3 program ketahanan pangan, mulai dari budidaya Azola, jamur tiram, dan ulat magot BSF.

“Berawal atas perintah, di tengah pandemi Covid-19 ini, TNI-AD wajib mengembangkan ketahanan pangan dalam mendukung program pemerintah, tentang percepatan pemulihan ekonomi, salah satunya budidaya ulat Magot BSF ini. Alhamdulillah hasilnya, sangat membantu penghasilan tambahan untuk keluarga saya, di luar gaji sebagai prajurit TNI-AD,” ujar Pelda Sugimin kepada media Pendim, Selasa (12/04/2022).

“Budidaya ini sudah saya lakoni sejak satu tahun silam, atau beberapa bulan pandemi Covid-19 mulai mewabah di Indonesia. Hasilnya sekarang sudah saya nikmati. Kemudian saya kembangkan dengan membentuk kelompok sebagai mitra binaan, Intinya keberhasilan ini saya ketuk tularkan juga kepada masyarakat binaan saya di Desa Sumberasri” terangnya.

Meski cara budidayanya sangat mudah, hanya di beri pakan dari limbah atau sampah sayur-mayur dan buah-buahan, pertumbuhan ulat magot BSF, sangat cepat, hanya membutuhkan waktu antara 7 sampai dengan 21 hari jika ingin hasilnya maksimal, dan harga jualnya tinggi.

Menurut Babinsa Pelda Sugimin, dalam budidaya ulat magot BSF ini, dibutuhkan keuletan, karena jika ingin menghasilkan produksi ulat yang bermutu dan berkualitas, membutuhkan waktu hingga 3 pekan, dengan 3 fase pertumbuhan seperti magot fress yang masih berwarna putih harga jual Rp 7 ribu per-kilo gram, kemudian kurva yang berusia 3 pekan Rp200 sampai dengan Rp300 ribu per-kilo gram, dan telur bsf harganya mencapai mencapai Rp1,5 juta per-kilo gram.

“bu-ibu, Bapak-bapak, Teman-teman, dan Adik-adik millenial, di tengah pandemi covid-19 ini, kita bangkit untuk memperbaiki perekonomian yang sedang terpuruk ini karena corona. Kita mulai babak baru dengan berbudidaya ulat magot bsf, yang menjanjikan ini,” pungkas Pelda Sugimin. (Pendim OKU)

No More Posts Available.

No more pages to load.